Home > Wisata Jogja > Kawasan Kotagede “Sejarah Besar di antara Lorong-lorong Kecil”

Kawasan Kotagede “Sejarah Besar di antara Lorong-lorong Kecil”

kawasan-kotagede

Tiada yang kekal di dunia ini, hidup bagaikan roda kereta yang selalu berputar kadang diatas kadang dibawah, dan waktu terus berjalan tidak akan pernah kembali lagi. Sering kita bertanya kepada diri kita masing-masing, ketika para sesepuh bercerita tentang kebesaran sejarah masa lampau, dan kita dengan enteng menjawab sejarah biarlah berlalu saatnya kita menapaki masa sekarang dan masa depan. Sebagai generasi sesudahnya marilah kita bersikap bijak dengan mengandaikan berlari dan berjalan di atas perputaran roda waktu agar tetap bertahan tidak tergerus masa.

Melihat sebuah potensi besar memang tidak bisa dilepaskan dari masa lalu, sekarang dan masa depan. Sebagai kawasan yang memiliki potensi besar Kotagede memiliki tiga hal diatas, di masa lalunya sebagai titik awal kebesaran Kerajaan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrosumo, masa sekarang menjadi tempat wisata sejarah dan pusat kerajinan perak, dan untuk masa mendatang menjadikan kawasan Kotagede yang terus menjaga potensi dari masa lalu sampai sekarang.

logoneRajanya Sewa – Rental Mobil Di Jogja

Office: Jombor Lor Rt 03 Rw 19 Sendangadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta Phone: (0274) 864 228 / (0274) 919 9014 Mobile: 0812 2569 5519 / 0819 0415 8499 Pin BB: 53F68EE2

Pesan Mobil / Booking Mobil

Menyusuri lorong-lorong kecil di Kotagede, kami mendapatkan cerita kebesaran kawasan ini, banyaknya situs sejarah yang berdiri dan masih berfungsi secara sosial budaya membuat perjalanan ini semakin menarik untuk kita ulas bersama. Sejarah Kotagede bermula pada periode kekuasaan Sultan Hadiwijaya di kerajaan Pajang, beliau menghadiahkan Hutan Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan atas keberhasilannya menaklukan pemberontakan di Pajang. Ki Ageng Pemanahan beserta keluarga dan para pengikutnya hijrah ke Hutan Mentaok, sebuah hutan yang sebelumnya bekas Kerajaan Mataram Hindu. Di tengah belantara Hutan Mentaok, Ki Ageng Pemanahan melakukan babad alas dengan membuat sebuah komplek kerajaan yang kemudian setelah beliau wafat digantikan oleh putranya Panembahan Senopati. Periode pemerintahan Panembahan Senopati membawa perkembangan besar, Hutan Mentaok lambat laut tumbuh menjadi kota yang semakin ramai dan makmur, hingga disebut Kotagede (kota besar). Senapati lalu membangun benteng dalam (cepuri) yang mengelilingi kraton dan benteng luar (baluwarti) yang mengelilingi wilayah kota seluas ± 200 ha. Sisi luar kedua benteng ini juga dilengkapi dengan parit pertahanan yang lebar seperti sungai.

Sebagai kota tua bekas ibukota kerajaan, Kotagede merupakan kota warisan (heritage) yang amat berpotensi bagi kemakmuran masyarakatnya.  Daerah ini dikenal dengan kerajinan peraknya yang terletak di sepanjang Jalan Kemasan hingga pertigaan Jalan Tegal Gendu, dari perjalanan ini kita akan melihat bangunan lama yang masih berdiri, dari bangunan kecil hingga bangunan besar.  Setelah dari perjalanan ini kita bisa lanjutkan untuk melihat kemeriahan Pasar Kotagede yang selalu ramai setiap hari. Tata kota kerajaan Jawa biasanya menempatkan kraton, alun-alun dan pasar dalam poros selatan- utara. Kitab Nagarakertagama yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14) menyebutkan bahwa pola ini sudah digunakan pada masa itu. Pasar tradisional yang sudah ada sejak jaman Panembahan Senopati masih aktif hingga kini. Anda akan menemukan suatu suasana lain apabila anda datang ke Pasar Kotagede di kala tanggalan Jawa menunjukkan pasaran/hari Legi. Pasar Kotagede akan bertambah ramai dan sesak baik oleh penjual maupun pembeli, bahkan area pasar bisa bertambah hingga depan Kantor Pos/TK ABA. Oleh karena itu, oleh sebagian besar penduduk Kotagede, pasar ini lebih dikenal dengan nama Pasar Legi.

Dari Pasar Kotagede kita berjalan arah selatan menuju komplek Masjid Agung Kotagede yang terasa masih seperti di lingkungan Kraton, dimana lengkap dengan pagar batu berelief mengelilingi masjid, pelataran yang luas dimana terdapat beberapa pohon sawo kecik, serta sebuah bedug berukuran besar yang umurnya sudah sangat tua, setua Masjid Agung Kotagede sendiri. Selain itu di Kotagede juga terdapat makam para raja terdahulu Mataram antara lain makam Panembahan Senopati (pendiri Mataram). Namun kemudian makam para raja Mataram selanjutnya dipindahkan ke daerah Imogiri oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo (Raja Mataram yang menyerang Batavia).

Apabila keluar dari komplek makam para raja kita akan disambut oleh reruntuhan benteng cepuri (dalam) yang asli masih bisa dilihat di pojok barat daya dan tenggara. Temboknya setebal 4 kaki terbuat dari balok batu berukuran besar. Benteng ini dibuat oleh Panembahan Senopati lengkap dengan parit pertahanan di sekeliling kraton, luasnya kira-kira 400 x 400 meter. Sedangkan sisa parit pertahanan bisa dilihat di sisi timur, selatan, dan barat.

Dari perjalanan ini kita akan menambah wawasan sejarah Kerajaan Mataram Islam yang besar  dan berkuasa penuh di Pulau Jawa. Selain itu, Anda juga bisa melihat dari dekat kehidupan masyarakat yang ratusan tahun silam berada di dalam benteng kokoh.Perjalanan sebuah bangsa bisa dilihat dari peninggalan sejarah serta semangat perjuangan yang ada di dalam masyarakat pada setiap generasi. Cerita-cerita perjuangan turun temurun menjadi sebuah babad cerita tersendiri yang dilakukan oleh generasi sebelum kita. Banyak hal yang sudah kita dapatkan dari para pendahulu kita dari cerita tersebut. Yang menjadi pertanyaan, cukupkah kita hanya menjadi pendengar tanpa melakukan usah pendokumentasian sedikit pun?

You may alo like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *