Home > Wisata Jogja > Jeron Beteng Heritage Trail

Jeron Beteng Heritage Trail

benteng-yogyakarta1

Menyusuri tempat sejarah dan situs budaya di dalam benteng keraton

Keraton Yogyakarta adalah salah satu tempat wisata di Yogyakarta yang menarik untuk dikunjungi. Di sini kita bisa belajar banyak mengenai sejarah Yogyakarta, terutama yang berada di komplek Istana Kraton Yogyakarta, Tamansari, dan Museum Sonobudaya dan Museum Kereta. Pesona menarik yang sampai saat ini belum bisa dimanfaatkan dengan maksimal sebagai lokasi wisata.

Dengan menggunakan andong, becak, maupun kendaraan tradisional lainnya, anda bisa menyusuri tempat sejarah dan situs budaya tersebut. Ada peta dan pemandu wisata yang akan menjelaskan kepada anda tentang lokasi-lokasi tersebut. Misalnya adalah Jeron Beteng (Dalam Benteng), yaitu merupakan kawasan bagian dalam benteng yang mengelilingi Keraton Yogyakarta.

Benteng yang disebut sebagai benteng Baluwertini dulunya merupakan alat pertahanan yang melindungi kerajaan dari serangan musuh-musuhnya. Beteng Baluwerti antara lain terdiri empat buah pojok beteng dan lima buah plengkung sebagai pintu masuk ke dalam wilayah Jeron Beteng, Alun-alun Utara dan Selatan serta Regol Pangurakan. Sementara itu pusaka budaya yang ada di Jeron Beteng adalah beberapa masjid, beberapa dalem (rumah bangsawan), berbagai rumah tradisional, museum kereta, Museum Sonobudoyo, Museum Gamelan, Pasar Ngasem, kandang gajah dan bengkel wayang.

Setelah selesai mengelilingi kawasan Jeron Beteng, anda dapat menikmati makanan khas daerah Yogya yang beraneka ragam. Beberapa di antaranya adalah makanan ala jajanan pasar seperti apem, klepon, naga sari, lemper, gebleg dari Kulonprogo, yangko dari Kotagede, termasuk juga bakpia patuk.

logoneRajanya Sewa – Rental Mobil Di Jogja

Office: Jombor Lor Rt 03 Rw 19 Sendangadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta Phone: (0274) 864 228 / (0274) 919 9014 Mobile: 0812 2569 5519 / 0819 0415 8499 Pin BB: 53F68EE2

Pesan Mobil / Booking Mobil

Indahnya Revitalisasi Benteng Kraton Yogyakarta

Berdasarakan Kamus Besar Bahasa Indonesia, Revitalisasi adalah proses, cara, dan perbuatan menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya kurang terberdaya. Benteng Kraton Yogyakarta merupakan dinding benteng yang mengelilingi kawasan Kraton Yogyakarta. Wacana revitalisasi Benteng Kraton Yogyakarta bertujuan untuk mengembalikan kondisi Benteng Kraton Yogyakarta pada bentuk semula dalam rangka meningkatkan image kota yogyakarta sebagai salah satu kota heritage tujuan wisata.

benteng-yogyakarta

Pada awalnya Benteng Kraton Jogjakarta dikelilingi oleh Jagang (parit) berkedalaman 5 meter, terdiri atas 4 (empat) pojok benteng, dan 5 (lima) gerbang masuk ke dalam benteng, yang lazim disebut dengan Plengkung, yaitu Plengkung Tarunosuryo, Madyosuro, Nirbaya, Jagabaya, Jagasura. Pada saat itu, tata kehidupan di dalam benteng telah terkonsep dengan baik, khususnya terkait dengan zonifikasi (peruntukan) fungsi masyarakat penghuni benteng. Masyarakat penghuni benteng, yang saat itu disebut sebagai “abdi dalem” menempati kampung-kampung sesuai dengan fungsi tugas mereka di Kraton, misalnya:

Kampung Gamelan. Gamelan berasal dari kata Gamel yang dalam bahasa jawa berarti perawat kuda. Sesuai dengan namanya, Kampung Gamelan dihuni oleh abdi dalem yang bertugas merawat seluruh kuda-kuda Kraton Yogyakarta

Kampung Namburan. Namburan berasal dari kata Tambur yang dalam bahasa jawa berarti genderang. Sesuai dengan namanya, Kampung Namburan dihuni oleh abdi dalem yang bertugas memukul genderang saat pintu gerbang pelangkung dibuka pada pukul 06:00 dan ditutup pada pukul 18:00.

Kampung Siliran. Siliran berasal dari kata Silir yang dalam bahasa jawa berarti penerangan. Sesuai dengan namanya, Kampung Siliran dihuni oleh para abdi dalem yang bertugas menyalakan penerangan di seluruh wilayah kraton

Kampung Sokolanggen. Sokolanggen berasal dari kata Sego langgi yang dalam bahasa jawa berarti nasi langgi. Sesuai dengan namanya, Kampung Sokolanggen dihuni oleh para abdi dalem yang bertugas memasak hidangan di Kraton.

Kampung Nagan. Nagan berasal dari kata Niyaga yang berarti penabuh musik gamelan. Sesuai dengan namnya, Kampung Nagan dihuni oleh para abdi dalem yang bertugas memainkan musik Gamelan di Kraton di ketika berlangsung acara-acara kenegaraan.

Kampung Langenastran. Ketiga nama tersebut berasal dari kata Langenastro, yang merupakan nama laskar atau kesatuan prajurit kraton. Sehingga kampung tersebut dihuni para abdi dalem yang bertugas sebagai pasukan kraton Yogyakarta.

Sungguh indah dan unik bukan, suasana kehidupan dalam Benteng Kraton Yogayakarta ketika itu?

Saat ini, Benteng Kraton Yogyakarta tinggal menyisakan 3 (tiga) pojok benteng, karena 1 (satu) pojok benteng hancur ketika terjadi pertempuran melawan Inggris pada tahun 1812 (Geger Spei/Sepoy) dan 2 (dua) plengkung yaitu Pelengkung Nirbaya (Pelengkung Gading) dan Plengkung Tarunosuro (Plengkung Wijilan). Walau nama-nama kampung di dalam benteng masih tidak berubah, namun secara fungsional, penghuninya ‘hanya’ masyarakat biasa yang tidak mengabdi untuk Kraton Yogyakarta.

Berlandaskan pada Undang-undang RI No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, maka sebagian dari “Kenangan Indah” akan Benteng Kraton Yogyakarta itulah yang akan kembali dihidupkan dalam kondisi Kraton Yogyakarta pada saat ini. Rasanya wacana tersebut tidak berlebihan, walau memang pada pelaksaannya pasti akan menemui hambatan. Misalnya, saat ini terdapat lebih kurang 530 bangunan yang menempel pada sisi luar Benteng Kraton Yogyakarta. Artinya, harus ada mekanisme relokasi penduduk di kawasan tersebut, entah melalui ganti rugi yang dipenuhi dari anggaran keistimewaan, mekanisme pembebasan lahan partial di titik-titik tertentu ataupun mekanisme lainnya. Walaupun secara hukum, memang kawasan benteng merupakan kawasan magersari, yang merupakan kawasan mutlak milik Kraton Yogyakarta, sehingga pihak Kraton berhak atas tanah yang didiami penduduk sekeliling benteng. Artinya, jika Kraton Yogyakarta menghendaki dan kemudian menggunakan ‘hak penertiban’ atas kawasan magersari pun, tidak akan melanggar undang-undang dan hal tersebut tetap dibenarkan. “Itu (kawasan sekitar benteng) merupakan daerah magersari. Sehingga sewaktu-waktu dibutuhkan, dimungkinkan untuk kembali (kepada Kraton Jogjakarta). Namun, memang terlebih dahulu harus ada tata ruang yang jelas dari Pemkot,” demikian diungkapkan Sri Sultan HB X.

Namun demikian, pihak Kraton tentunya akan mengutamakan langkah-langkah persuasif sebagai jalan utama revitalasisai tersebut, dan dalam hal ini Pemkot Yogyakarta lah yang memegang peran sebagai ujung tombak proyek tersebut. Seperti halnya saat walikota Yogyakarta dijabat oleh Herry Zudianto selama 2 periode (2001 – 2011), Beliau berhasil memindahkan pasar Widuran ke lokasi Baru di Giwangan, Pasar Klithikan ke Kuncen dan Pasar Hewan Ngasem ke Dongkelan, dengan sukses TANPA konflik horisontal sedikit pun. Nah, apakah walikota saat ini, Haryadi Suyuti, bisa mengikuti jejak pendahuluya untuk mencatatkan prestasi dan kenangan manis di hati masyarakat Yogyakarta, melalui proyek Revitalisasi Benteng tersebut? Memang banyak orang meragukannya, lebih-lebih setelah pada bulan Agustus 2012, Haryadi mengeluarkan kebijakan kontra-produktif yang dikiritisi banyak pihak terkait dengan penghapusan kebijakan Car Free Day pada Hari Jumat di lingkungan Pemkot yang telah berjalan dengan baik pada periode walikota sebelumnya.

Namun, terlepas dari sejauh mana upaya Pemkot Yogyakarta terhadap rencana proyek tersebut, kita patut memberikan dukungan sepenuhnya. Dan jika Benteng Kraton Yogyakarta benar-benar berhasil direvitalisasi, maka bukan hanya Negera Cina yang memiliki keistimewaan dengan “Tembok Cina”-nya, Negara Indonesia pun bisa berbangga dengan keistimewaan Kota Jogja melalui “Benteng Kraton Yogyakarta”-nya.

Peta Benteng Kraton Yogyakarta

Menyusuri tempat sejarah dan situs budaya di dalam benteng keraton

Foto Benteng Kraton Yogyakarta

[Best_Wordpress_Gallery id=”6″ gal_title=”Benteng Yogyakarta”]

Kami Juga Menyediakan :

Sewa Mobil di Jogja | Paket Wisata Jogja | Rental Mobil di Jogja

(0274) 864228 | 0812 2569 5519 | BB : 53F68EE2

You may alo like...

(1) Comment

  1. Panca Kusuma

    Sangat setuju untuk melakukan revitalisasi benteng kraton jogja,kembalikan bentuk asli kraton jogja demi Jogja Istimewa…lakukan pendekatan kepada pemilik bangunan yang menempel benteng,relokasi mungkin 5,10 atau 20 thn lagi impian ini bisa terwujud…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

customer service